Berangkatlah pada pagi hari dari Taipei atau Taichung, lalu menuju Miaoli, sebuah wilayah yang kaya akan tradisi budaya, karya seni, dan pesona pemandangan alam. Saat hiruk-pikuk kota perlahan menghilang di belakang Anda, pemandangan berubah menjadi perbukitan yang bergelombang, lembah-lembah yang rimbun, dan desa-desa tempat sejarah serta keahlian kerajinan masih tetap hidup.
Mulailah dari Jalan Tua Nanzhuang, yang juga dikenal sebagai Gang Guihua, sebuah harta karun penuh kenangan di Miaoli. Berjalanlah menyusuri jalan-jalan berbatu yang dipenuhi rumah-rumah kayu yang terawat baik dan toko-toko bata merah yang mencerminkan masa lalu Taiwan. Cicipi camilan tradisional Hakka seperti lei cha (teh yang ditumbuk bersama biji-bijian dan rempah-rempah), mochi, kesemek kering, dan kue beras buatan tangan.
Selanjutnya, kunjungi Museum Patung Kayu Sanyi, tempat keindahan seni berpadu dengan tradisi. Sanyi diakui secara internasional sebagai “Ibukota Ukiran Kayu” Taiwan, dan museum ini memperlihatkan alasannya. Galeri-galeri tersebut menampilkan koleksi karya seni yang sangat beragam—mulai dari patung-patung religius yang halus dan diukir dengan detail yang menakjubkan, hingga patung-patung kayu modern yang menafsirkan kembali motif-motif tradisional.
Selanjutnya, nikmati pengalaman bersepeda di Jalur Kereta Api Old Mountain Line. Goweslah menyusuri jalur kereta api bersejarah ini, yang dulu sangat penting untuk mengangkut barang-barang melintasi wilayah tengah Taiwan. Nikmati perjalanan di rel yang berkelok-kelok melewati terowongan, melintasi jembatan, dan di sepanjang lereng bukit yang hijau. Perjalanannya tenang dan cocok untuk keluarga, namun tetap cukup menantang untuk membuat jantung Anda berdebar kencang saat Anda keluar dari terowongan dan disuguhi panorama lembah serta sungai yang luas.
Terakhir, kunjungi Jembatan Longteng (Jembatan Naga-Teng). Jembatan ini awalnya dibangun pada awal abad ke-20 sebagai jembatan rel kereta api berbahan bata merah, namun mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi dahsyat tahun 1935 dan kemudian akibat gempa bumi Jiji tahun 1999. Kini, lengkungan-lengkungan yang masih berdiri itu menjulang anggun dengan latar belakang perbukitan dan hutan, ditumbuhi lumut dan tanaman merambat yang memberikan kesan keindahan yang memikat.