Titik awal kami adalah bekas Largo da Forca, yang kini dikenal sebagai Praça da Liberdade, tempat eksekusi gantung di depan umum dilakukan — banyak di antaranya menimpa orang-orang kulit hitam yang diperbudak dan memberontak. Selanjutnya, kita akan berjalan kaki menuju Gereja Nossa Senhora dos Aflitos, salah satu gereja tertua di kota ini, yang memiliki pemakaman tersembunyi tempat jenazah para budak dan mereka yang dijatuhi hukuman mati dimakamkan.
Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan sempit di lingkungan ini, sambil menyoroti perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh penghapusan jejak sejarah setelah kedatangan komunitas Jepang pada awal abad ke-20. Kita akan mengunjungi berbagai tempat bersejarah, seperti markas Sekolah Samba Lavapés, yang merupakan simbol ketahanan dan perjuangan budaya kulit hitam di lingkungan tersebut, yang didirikan oleh para pekerja dan penduduk kulit hitam di kawasan itu.
Selama acara Tur, kita juga akan membahas tokoh-tokoh sejarah yang kurang dikenal, persaudaraan kulit hitam, pemukiman kumuh, dan quilombo perkotaan, serta pembentukan identitas lingkungan tersebut sebelum terjadinya “orientalisasi.” Setiap perhentian akan menjadi ajakan untuk merenungkan bagaimana ingatan kaum kulit hitam pernah dibungkam — dan bagaimana ingatan tersebut dapat dipulihkan di masa kini.
Tur ini adalah sebuah perjalanan mendalam ke dalam lapisan-lapisan kota yang terlupakan, tempat budaya kulit hitam tetap bertahan di tengah deretan etalase toko yang berwarna-warni dan lentera-lentera bergaya Timur. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat Liberdade dari sudut pandang yang berbeda — lebih kritis, lebih manusiawi, dan lebih jujur.
Rute Tur berakhir di Paço dos Piques, yang kini dikenal sebagai Ladeira da Memória, sebuah tempat perhentian bagi para pengemudi keledai untuk memberi minum kuda-kuda mereka di air mancur tersebut, yang juga digunakan oleh para budak.