Ini bukanlah kehidupan malam di kawasan lampu merah Tur, dan juga bukan pengalaman sebagai wanita penghibur yang mengenakan kostum — ini adalah uraian tentang bagaimana satu kata, “berizin,” bisa berarti kebebasan bagi sebuah negara dan keterbatasan bagi seseorang.
Sebagian besar pengunjung yang pernah mendengar tentang Yoshiwara mengenalnya sebagai kawasan hiburan terkenal di Edo — tempat para oiran, bunga sakura, dan selera yang halus. Hanya sedikit orang yang menyadari bahwa tempat itu juga merupakan kompleks yang dikelilingi tembok dan parit dengan satu gerbang saja, yang dibangun atas izin shogunat pada tahun 1617 dan dibangun kembali di lokasi ini pada tahun 1657, di mana para perempuan di dalamnya hampir tidak memiliki kedudukan hukum apa pun.
Anda akan memulai perjalanan dari Mikaeri Yanagi, pohon willow tempat para pengunjung yang hendak pulang konon menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, sebelum menuruni Emonzaka dan melewati lokasi Gerbang Ōmon — satu-satunya pintu masuk dan keluar di kawasan tersebut. Dari sana, rute jalan kaki ini mengikuti sisa-sisa tembok batu Ohaguro-dobu, parit yang dahulu mengelilingi keempat sisi kawasan tersebut dan membuat pelarian tanpa pengawalan hampir mustahil dilakukan, sebelum memasuki Nakanochō-dori, jalan utama di masa lalu tempat festival musiman dan iring-iringan pelacur di kawasan tersebut dulu selalu menarik kerumunan orang.
Perjalanan ini juga mengupas istilah yang seringkali sudah membingungkan banyak pengunjung: geisha dan oiran sebenarnya bukanlah profesi yang sama. Geisha menawarkan pertunjukan seni; sedangkan oiran, serta yūjo yang berada di bawah mereka, memiliki izin untuk menjual jasa seksual, yang sebagian besar didasarkan pada kontrak ikatan utang, bukan atas dasar pilihan bebas. Kehalusan mereka — estetika yang kemudian dikemukakan dalam filsafat Jepang sebagai “iki” — adalah nyata, dan hal itu juga dibangun di atas struktur ketenagakerjaan yang nyaris tak memiliki jalan keluar. Tur berakhir di Kuil Yoshiwara, yang terbentuk dari lima kuil penjaga yang dahulu menjaga sebuah kawasan yang penduduknya sendiri tidak boleh tinggalkan.
Dirancang untuk para pelancong yang ingin merasakan budaya Edo tanpa embel-embel — sebuah narasi tunggal yang menghubungkan hukum shogunat, estetika chōnin, dan sejarah gender di satu lokasi.